IMG-20151123-WA0005

Di awal bulan November 2015, STI ITB kembali diberi kesempatan untuk menyambut 8 mahasiswa IT dari Deakin University, Australia. Mahasiswa IT Deakin yang datang bersama seorang dosen pembimbingnya, tidak hanya datang untuk berkunjung selama satu atau dua hari, tetapi untuk kurang lebih 12 hari berkegiatan bersama dengan 12 mahasiswa STI ITB yang diketuai oleh Indra Kusuma Putra (STI 2011) dengan bimbingan dari bapak Fadhil Hidayat. Sesampainya di Bandung pada hari Sabtu tanggal 7 November 2015, para mahasiswa Deakin langsung diajak untuk mengelilingi kampus ITB, datang ke acara Gathering STI 2015 bersama para pendamping mereka dari STI, dan menikmati kota Bandung keesokan harinya.

Berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini mahasiswa Deakin bersama mahasiswa STI bekerja secara berkelompok untuk mengajukan sebuah proyek smart system dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang ada di kota Bandung. Setiap hari, para mahasiswa Deakin akan diberikan materi di kelas mengenai smart system dan kota Bandung. Setelah makan siang, setiap kelompok akan berdiskusi untuk mencoba merumuskan proyek smart system hingga sore. Di malam hari, setiap kelompok kembali berkumpul di berbagai tempat makan di kota Bandung untuk saling mengakrabkan diri sambil mendiskusikan proyek yang akan diajukan. Akhir pekan dimanfaatkan oleh para mahasiswa Deakin dan mahasiswa STI untuk rehat dari segala hal yang berkaitan dengan proyek. Caranya adalah dengan menikmati berbagai tempat wisata yang ada di sekitaran kota Bandung, khususnya wisata alam. Kawah Putih dan Tangkuban Perahu menjadi tujuan utama.

IMG_0086IMG_0063IMG_0041 IMG_0139IMG_0197IMG_0160

Hingga akhirnya pada hari Selasa tanggal 17 November 2015, masing-masing kelompok mempresentasikan proyek yang diajukan.

Kelompok 3 yang meraih gelar Best Project beranggotakan Sudarsan (tengah), Sagir (kanan), Fadhil, Safa, dan Sheila dalam sesi tanya jawab

Pada hari Selasa pula, semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini berkumpul untuk mengikuti farewell dinner party di sebuah restoran hotel di Bandung. Para tamu dari Deakin, perwakilan ASSISTS ITB termasuk 12 orang mahasiswa STI pendamping, para dosen KK TI termasuk bapak Fadhil Hidayat, dan bapak Dwi selaku Wakil Dekan Bidang Akademik meramaikan malam perpisahan ini. Banyak cerita dan pengalaman yang didapatkan oleh semua yang terlibat dalam kegiatan ini. Salah satunya adalah dari sang ketua tim, yaitu Indra Kusuma Putra (IKP) yang telah menjalankan amanahnya dengan sangat baik. Berikut adalah tulisan dari IKP yang mungkin dapat menggambarkan betapa sulit dan menyenangkannya ASSISTING Deakin, termasuk evaluasi untuk tim ASSISTING Deakin tahun berikutnya.

Assisting Deakin’s Student merupakan sebuah kegiatan yang tidak bisa dipandang sepele. Pada kegiatan ini, tim assisting diwajibkan berinteraksi dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakang yang sangat jauh berbeda. Perbedaan budaya ini kemudian ter’breakdown’ menjadi selera dan kuantitas makan yang berbeda, toleransi pada keteraturan sistem yang berbeda, hingga referensi hiburan yang jauh berbeda. Tugas utama selama tim assisting ini untuk memastikan perbedaan budaya tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk belajar budaya, pengetahuan, dan pergaulan baru di Indonesia.

Terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam mengatasi perbedaan tersebut. Pada tulisan ini , saya akan mencoba untuk menjabarkan beberapa strategi yang mungkin dapat diterapkan oleh tim assisting selanjutnya. Pertama, mengenai perbedaan selera dan kuantitas makan. Keberagaman di mahasiswa Deakin dapat memberikan variasi selera makan yang rumit. Satu tidak suka makan makanan dengan bumbu kuat, yang lain selalu meminta makanan India, dan sisanya ternyata tidak mengonsumsi daging merah atau daging putih bahkan telur karena alasan agama (bahkan putih telur yang jadi olesan di atas kue bolen pisang keju sebaiknya dihindarkan dari mereka). Diperlukan inisiatif dari tim assisting dengan cara mencari tahu bahan-bahan yang dikandung dalam sebuah makanan, atau memahami makanan-makanan yang dapat ditemukan di sekitar kota Bandung. Dapat pula diminta permintaan khusus pada restoran untuk mengganti bahan-bahan masakan agar dijadikan semacam masakan vegetarian (seperti nasi goreng, tanpa telur, tanpa sosis, tanpa bakso, tanpa masako). Selain itu, jika makanan yang disediakan memang tidak dapat dihindarkan dari kandungan tersebut, perlu diberitahukan secara langsung kepada yang akan mengonsumsi bahwa hidangan mengandung beberapa hal di atas.

Selain perbedaan makanan, terdapat pula perbedaan toleransi terhadap keteraturan sistem. Jika dibandingkan dengan negara mereka, mungkin terdapat beberapa sistem yang masih belum sesuai dengan keadaan yang ideal sehingga kemungkinan akan terdapat banyak pertanyaan yang terkesan keluhan dari teman-teman Deakin. Contoh yang dapat saya ungkapkan antara lain: perbedaan cara penyajian makanan (disana harus urut appetizer – main – dessert , disini yang cepat jadi yang pertama dihidangkan), perbedaan budaya buang sampah (disini masih banyak yang sembarangan, disana pelanggar akan didenda), atau sistem pembayaran di Indonesia yang mengandung pungli. Banyak pertanyaan yang mengandung keluhan dan protes namun tak jarang pula yang sekedar bertanya karena penasaran. Dalam menanggapi hal-hal tersebut, kadang terjadi konflik antara etika egoisme (seolah kita harus membela negara kita, dan tidak mau dijelek-jelekkan) dengan etika utilitarian (mengalah sementara dan menyetujui agar acara berjalan secara lancar). Karena hal tersebut, mulailah berpikir sebab utama ketidakteraturan sistem di negara kita agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mulai memikirkan solusi atas permasalahan negara yang konon sulit ditemukan akar masalahnya. Pada eksekusinya, perbanyak penyadaran dan beri pengertian latar belakang keadaan sesuai dengan pemahaman kita. Jika merasa sudah menemui jalan buntu, lebih baik disetujui dan jadikan motivasi dalam membenahi sistem tersebut.

Perbedaan referensi hiburan kadang menjadi kendala yang sulit. Minuman keras adalah hal yang wajar di budaya mereka, tetapi disini dipandang sedikit tabu. Ada yang memandang tidak masalah ikut membantu mengantar mereka ke bar asal tidak ikut minum. Orang lain berpemahaman bahkan menunjukkan bar pun tidak boleh karena dengannya kita membenarkan minuman keras. Pemahaman tersebut kembali ke pribadi masing-masing. Pahamilah bahwa disini kita tidak hanya bertindak sebagai tim assisting, tetapi juga sebagai teman bagi mereka. Kita memeiliki pilihan untuk have fun dengan teman baru atau saling toleransi tentang pemahaman masing-masing dengan teman baru ini. Tidak perlu khawatir akan terjadinya konflik pemahaman, orang-orang yang sudah siap untuk bepergian keluar negeri biasanya sudah siap untuk berpikiran terbuka dengan mengetahui batasan tindakan sesuai etika yang mereka pegang.

Di samping perbedaan-perbedaan tersebut, ingat bahwa kita akan memegang peran yang berbeda pada mereka. Kita akan menjadi teman, kelompok diskusi, junior (pada professor yang menemani) dan tuan rumah. Perlu diingat bahwa hak dan kewajiban yang dimiliki oleh keempat peran tersebut seperti membantu menunjukkan lingkungan sekitar (seperti tempat makan, tempat laundry, cara naik angkot), mendengarkan masalah-masalah yang dimiliki, mengikuti kegiatan kelompok (diskusi, survei, perancangan proyek bersama berupa presentasi dan poster),  membantu permohonan-permohonan yang dapat dibantu (mengantar berbelanja), mempersiapkan transportasi untuk wisata, membantu translasi menu, menyiapkan konsumsi (snack, makanan, minuman) saat wisata. Kegiatan-kegiatan tersebut memang terlihat tidak simpel, nyatanya cukup menguras tenaga fisik maupun batin. Akan tetapi, di setiap kerja keras pasti selalu ada hasil yang sesuai, selama assisting Deakin ini tim juga akan mendapatkan kesempatan untuk makan bersama yang didanai oleh pihak Deakin, kesempatan wisata bersama, pengetahuan baru terkait proyek bersama dan tentu saja teman dan relasi baru yang merupakan investasi yang akan sangat berguna di masa depan nanti.

Perlu diperhatikan pula bahwa tim assisting dibentuk untuk saling membantu dan saling mengisi kekurangan masing-masing sehingga peran-peran dan tugas-tugas yang terasa berat tadi dapat dipikul bersama. Dengan begitu, hasilnya benar-benar dapat dinikmati nilainya akan bertambah karena dinikmati bersama-sama tim assisting dan teman-teman dari Deakin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *